Skip to main content
x
Ketua DPRD Provinsi Jambi, Edi Purwanto kembali menghimbau kepada seluruh daerah di Provinsi Jambi untuk mengantisipasi kondisi perubahan cuaca. Diprediksi pada Juni ini mulai memasuki musim panas. (Erin Andani/Indoraja)

Dampak El Nino Menjadi Kekhawatiran Kekeringan Masyarakat di Jambi

Indonesiaraja.com, Jambi - Dampak dari El Nino di Jambi cukup serius jika tidak ditangani dengan segera.

Bulan Februari lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut Nino memicu kekeringan. Dengan minimnya curah hujan yang terjadi juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api.

"Langkah-langkah strategis perlu dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Utamanya sektor-sektor yang sangat terdampak seperti sektor pertanian, terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Situasi saat ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada gagal panen yang dapat berujung pada krisis pangan," ujar Dwikorita di Jakarta, Rabu (7/6/2023).

Dampak El Niño di Jambi yakni sebagai berikut:

1. Kekeringan

Salah satu dampak utama El Niño adalah kekeringan yang dapat mempengaruhi ketersediaan air untuk pertanian, pemukiman, dan kebutuhan sehari-hari.

Curah hujan yang rendah atau tidak teratur selama periode El Niño dapat menyebabkan penurunan pasokan air, mengeringnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau, serta menurunkan level air tanah.

2. Kebakaran Hutan dan Lahan

El Niño juga berkaitan dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi yang kering dan cuaca yang panas dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

3. Penurunan Produksi Pertanian

El Niño dapat berdampak pada sektor pertanian di Jambi. Kekeringan yang terkait dengan El Niño dapat mengurangi pasokan air irigasi, menghambat pertumbuhan tanaman, dan mengurangi hasil panen. Tanaman padi, karet, kelapa sawit, dan komoditas pertanian lainnya dapat terpengaruh oleh kondisi kekeringan yang disebabkan oleh El Niño.

4. Perubahan Pola Cuaca

Selama periode El Niño, pola cuaca di Jambi dapat menjadi tidak stabil dan tidak terduga. Hal ini dapat berarti curah hujan yang rendah, intensitas hujan yang tinggi dalam periode singkat, atau fluktuasi suhu yang tidak biasa. Perubahan ini dapat mempengaruhi kegiatan pertanian, transportasi, dan kesehatan masyarakat.

Kepala Daerah Diminta Siapkan Antisipasi

Ketua DPRD Provinsi Jambi, Edi Purwanto kembali menghimbau kepada seluruh daerah di Provinsi Jambi untuk mengantisipasi kondisi perubahan cuaca. Diprediksi pada Juni ini mulai memasuki musim panas.

Sejumlah kemungkinan harus diperhatikan dan dipersiapkan sehingga dampak cuaca panas ini tidak terlalu berdampak pada masyarakat.

Kekeringan kata Edi Purwanto merupakan di antara dampak musim panas yang bakal terjadi di Provinsi Jambi. Masyarakat umum hingga sisi pertanian kata Edi Purwanto harus dicarikan formulasi oleh pemerintah daerah sehingga dampak kekeringan ini bisa ditekan.

“Kita minta masing-masing pemerintah daerah mempersiapkan ini, karena memang wilayah provinsi jambi juga masuk pada provinsi yang dimungkinkan mengalami kekeringan akibat cuaca panas ini,”ungkapnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia terkena musim kemarau atau kemarau panjang mulai Maret 2023. Siklus El Nino 2023 sendiri mulai di Mei dan diprediksi akan mampir ke Indonesia Agustus 2023.

“Sektor agraria ini tentu akan berdampak dengan kondisi kekeringan, dan kita minta ada formulasi-formulasi yang baru dan dijalankan, jangan sampai implikasi ke petani ini meluas, karena tentu akan berpengaruh pada sektor lain,”ungkapnya.

“Kita minta ini dipikirkan dari sekarang, sehingga antisipasi yang dilakukan ini bisa berjalan dengan efektif,”pungkasnya.

Reporter: Erin Andani

Editor: Alna