Skip to main content
x
BMKG menyampaikan fenomena El Nino akan segera berakhir, Rabu 01/11/23 (Foto:Alna Saputri)

BMKG Prediksi Fenomena El Nino Akan Segera Berakhir

Indonesiaraja.com, Bengkulu - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan fenomena El Nino akan segera berakhir. Masyarakat diminta untuk bersabar, dan waspada akan adanya potensi bencana yang akan terjadi. 

Seperti halnya, El Nino ini yang mempengaruhi pola iklim dan curah hujan di Indonesia, sehingga menyebabkan kemarau yang berkepanjangan. Bahkan masyarakat mengalami kekeringan ekstrim di sejumlah wilayah. 

Selama tahun 2020, 2021, dan 2022, Indonesia mengalami musim kemarau yang diwarnai oleh fenomena La Nina, yang sebaliknya menghasilkan curah hujan yang tinggi. 

“Meskipun saat ini El Nino masih cukup kuat, BMKG memprediksi bahwa fenomena ini akan melemah dan berakhir pada awal tahun 2024. Ini akan diikuti oleh musim hujan yang meningkat, dengan curah hujan di atas normal, terutama pada Januari dan Februari,” kata Kepala BMKG Dwikorita, Rabu (1/11).

Kondisi El Nino yang sedang berlangsung ini menyebabkan peningkatan kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia.

“Dampak lain dari El Nino adalah peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Hindia, terutama di sebelah timur Afrika, yang mengakibatkan awan hujan lebih banyak terbentuk di wilayah tersebut daripada di Indonesia. Sebagai akibatnya, curah hujan di Indonesia menjadi minim,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa ketika musim hujan tiba, potensi banjir, longsor, dan banjir bandang meningkat.

“BMKG juga telah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mungkin terjadi bersamaan dengan musim hujan,” katanya. 

BMKG juga menghimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan (Pancaroba) dari musim kemarau ke musim hujan.

"Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai dari hujan lebat disertai petir dan angin kencang serta hujan es," ungkap Kepala BMKG Dwikorita.  

Disebutkannya bahwa, arah angin bertiup sangat bervariasi, sehingga mengakibatkan kondisi cuaca bisa dengan tiba-tiba berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya. 

Akan tetapi, secara umum biasanya cuaca di pagi hari cerah, kemudian siang hari mulai tumbuh awan, dan hujan menjelang sore hari atau malam.

Tetapi, menjelang sore hari, awan ini akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir dan angin.

“Curah hujan dapat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati,” terangnya.

 

 

 

 

Reporter : Alna Saputri

Editor : Erin Andani