Harimau Serang Warga dan Sapi di Kabupaten Mukomuko, Diduga Akibat Kehabisan Mangsa Utama
Indonesiaraja.com,Mukomuko- Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Provinsi Bengkulu mengungkapkan bahwa salah satu penyebab harimau keluar dari habitat alami dan memangsa manusia serta sapi di Kabupaten Mukomuko adalah kesulitan dalam mencari mangsa utama seperti babi hutan, Rabu (22/01/2025).
Penyebab utama kesulitan tersebut adalah wabah penyakit African Swine Fever (ASF) yang menyerang babi hutan, ditambah dengan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Ketua Cabang PDHI Provinsi Bengkulu, Yeni Misra, menjelaskan bahwa harimau yang biasanya bergantung pada babi hutan sebagai sumber makanannya, kini terpaksa mencari alternatif mangsa setelah banyak babi hutan mati akibat penyakit ASF.
"Harimau keluar karena kesulitan mencari mangsa di hutan. Selain itu, alih fungsi hutan menjadi kebun kelapa sawit juga mengurangi habitat dan keberagaman satwa yang ada," ungkap Yeni Misra.
Kejadian tragis baru-baru ini menimpa seorang warga Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Teras Terunjam, Ibnu Oktavianto (22), yang ditemukan meninggal dunia pada 7 Januari 2025 setelah diserang harimau di kebun kelapa sawit. Selain itu, seekor sapi milik warga Desa Mekar Jaya juga ditemukan mati akibat serangan harimau. Dalam laporan yang diterima Dinas Pertanian Mukomuko, serangan serupa menyebabkan kematian sejumlah sapi di beberapa kecamatan di wilayah tersebut.
Di Kecamatan Teras Terunjam sendiri, tercatat sedikitnya lima ekor sapi mati akibat dimangsa harimau. Kejadian serupa juga terjadi di Kecamatan Malin Deman dan Kecamatan Selagan Raya.
Yeni Misra menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan hutan agar konflik antara harimau dan manusia bisa diminimalkan.
"Jika tidak ada lagi mangsa di hutan dan hutan juga telah beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit, harimau akan mencari makan di luar kawasan tersebut," katanya.
Wabah ASF yang melanda babi hutan dan kelangkaan mangsa di hutan, ditambah dengan kerusakan habitat akibat konversi lahan, semakin mempersulit upaya konservasi harimau. Oleh karena itu, perlu adanya langkah kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk menjaga kelestarian hutan serta mencegah konflik lebih lanjut antara manusia dan satwa liar.
Reporter : Hanny Try
Editor : Sherly Mevitasari
- 250003 views
